Culinary Adventure with Food Blogger Mates

by - Wednesday, June 17, 2015


Food blogging memang dunia yang ajaib. Berangkat dari kecintaan pada dunia kuliner dan masak-memasak, ribuan individu terkumpul jadi satu di bawah bendera Indonesian Foodblogger (IDFB). Tentu saja, selain sharing tentang kekulineran, kita foodblogger juga bisa dapat temen asyik yang banyak. Saling berbagi pengalaman kuliner dan juga resep, membuat para member foodblogger ini jadi akrab satu sama lain. Walaupun belum pernah ketemu, tapi rasanya udah kayak kenal lamaaa gitu hehehe, iya nggak? Hayo angkat tangan bagi yang setuju *saya udah angkat tangan tinggi-tinggi ini :). Bahkan, saya mendapat one of the best-EST besties ever, Si Ditut, ya lewat IDFB ini. Duh, gak nyangka ya Dit, persahabatan kita ditautkan oleh benang takdir kecintaan kita sama kuliner hehehehe. Thank you IDFB! You’re daebak! :D

Nah, karena para foodblogger ini membentuk jaringan semacam seduluran aka persaudaraan, salah satu hal terseru untuk dilakukan adalah jalan bareng kekulineran hehehe *bahasanya :D. Kulineran bareng sesama rekan foodblogger itu seru banget, apalagi kalo bisa sekalian kopdaran sama sahabat-sahabat blogger dari luar kota, wuih rasanya kayak sodara lama yang akhirnya bertemu kembali *seru, heboh, rame  dan yang jelas makan-makan hehehe.



Jalan bareng kulineran bisa tambah asyik dan seru dengan culinary travel’s best mate. Yaaaa, pingin banget ya bisa jalan kece kekulineran dengan mobil yang kece kayak Toyota Agya, apalagi yang warna putih *mata lope-lope. Nah, bagi seorang bentoer, rasanya kurang afdol nih kalau the dream car ini tidak diwujudkan dalam sebuah bento hehehe. Bahan bentonya simple saja sebenarnya, cuma yang bikin agak ribet itu guntingin norinya. Yaaah udah lama juga gak mbento, gunting kecil special saya buat mbento keselip ntah kemana. Jadinya pakek gunting kertas biasa plus jari-jari tangan saya yang gemuk dan gede, aaiiissshhh ujian kejiwaan dan kesabaran deh hehehe. Gimana tidak, pakek acara tahan-tahan napas juga pas gunting-gunting dan pasang norinya *hedeh hahaha. Untuk tulisan AGYA terpaksa ditambah pake sotosop ya, nyerah kecil banget gak bisa saya :D. Tapi apapun itu, seorang bentoer itu keren bangeettt… Kenapa? Gak hanya mobil brow yang bisa dimakan, sampai kereta api dan pesawat pun bisa dimakan hahaha. Limbat mah lewaaattt hehehehe :D

Ini bento Agya-nya dibuat dari putih telur yang didadar. Satu putih telur ditambah dengan masing-masing setengah sendok teh (atau more or less lah ya, tergantung ukuran telur juga) tepung terigu, tepung maizena, susu bubuk, margarine putih leleh serta sedikit garam, campur dengan air dikit atau secukupnya. Setelah itu kocok dengan telur, saring, lalu dadar di teflon yang cuma dioles minyak di atas api kecil. Seneeeeng deh, hasilnya mulus dan gak rasa tepung banget :D. Lauk bentonya ada brokoli, tomat ceri, telur rebus, dan boneless fried chicken with parmesan and fresh basil, uh guriiih. Belum punya Agya, sementara punya bentonya dulu deh :D. Nah, bahasan seru Si Agya ini diulas setelah cerita jalan-jalan bareng kekulineran bareng rekan-rekan blogger saya tercinta ya. Yep, yang semangat bacanya ya :D

Suatu hari yang ceria, kota Malang dikunjungi food blogger tersohor dari Surabaya. Ada Mbak R, Mbak Ces, dan Mbak Rurie yang saat itu sedang mudik dari Belendes :D. Wah yang di Malang seneng banget dong pastinya… Ada Mbak Nyutti, Ditut, Mbak Winda, dan sayah. Sayang banget hari itu Mbak Ririek gak bisa ikut. Karena food blogger ngumpul, acara pastinya makan-makan dong… Nah, di Malang sebenernya banyak banget tempat makan yang asyik, mulai gaya tradisional sayang alam, modern, sampai yang kekinian :D. Tetapi pilihan jatuh ke tempat makan yang suasananya asri, tradisional dan lesehan gitu supaya kita bisa ngobrol-ngobril dengan santai dan tentunya asyik buat foto-foto *teteeep :D. Resto pertama yang kita kunjungi adalah Pondok Desa Kampung Telaga yang terletak di Desa Ngijo, Kecamatan Karang Ploso, Malang (Tlp. 0341 - 462077).

Pondok Desa Kampung Telaga, ya dari namanya aja sudah bisa dibayangkan pasti asyik kan ya? Menikmati sajian kuliner serasa di atas telaga hehehe. Podok Desa Kampung Telaga ini merupakan rumah makan bertema “tradisional restaurant” yang cukup istimewa karena dikelilingi oleh kolam pemancingan dan hijaunya pemandangan alam. Suasananya asri dan sejuk, memberikan rasa nyaman dan kesan jauh dari kesibukan kota. Yang kesini pasti merasa betah deh. Bukan hanya suasananya yang tradisional, menu yang disediakan juga tradisional. Menu yang disediakan oleh Kampung Telaga ini antara lain tempe penyet, terong penyet, kropok lekor, bawal penyet, udang penyet, gurame terbang, serta aneka olahan seafood lainnya dan olahan sayuran khas resto ini. Menu favorit dari Kampung Telaga adalah Nila Sarang Telur dan Gurame Bakar dengan harga mulai dari IDR 40K. Di Kampung Telaga, ada juga fasilitas lain seperti Telaga Koi dan bagi yang suka mancing disediakan juga loh Telaga Pancing.

Tuh, asri dan rindang banget kan suasananya? Waktu kita baru datang, langitnya lagi ada acara gerimis mengundang kakak. Nah, kita milih makan ala lesehan, ya di pinggir kolam *eh telaga itu :D.


Ini dia menu kita… Yaaa olahan ala-ala hasil pancingan lah hehehe, minumnya kita pilih yang seger mulai dari es jeruk, aneka jus buah, sampai es degan. Sebenernya masih ada banyak yang gak kepotret kayak sambel-sambelnya, sayur asem, penyetan…. Keburu lapar sih, itu juga yang kepotret sebagian udah disempilin hihihihi. Alhamdulillaah enak dan kenyang *elus perut.

Suasana yang agak sedikit rusuh hahaha. Ada yang udah kelaparan, ada yang masih sibuk jepret-jepret makanan. Ya begitulah food blogger, saya menjepret behind the scene-nya dari belakang saja :D. Sambil makan sambil ngobrol setelah itu menikmati asrinya Kampung Telaga. Hijau, olahraga mata yang juga bikin perasaan rileks dan damai. Anginnya semilir sejuk pula :D. Sambil nunggu makanan bener-bener turun ke perut, kita duduk-duduk di tepi kolam sambil mainan ikan koi. Anak-anak seneng banget, tapi kalo mau kasih makan ikan koinya beli dulu makanan ikannya yang dijual sama restonya ya hehehe. Oya, karena gak ada pagar batas juga di tepi kolam, bagi yang bawa anak kecil harus selalu waspada ya… Kalau mau yang bukan lesehan atau tidak berbatasan langsung dengan kolam ada juga pilihan makan di meja kursi.

Sehabis kenyang makan di Pondok Desa Kampung Telaga, rekan-rekan food blogger sudah berencana untuk langsung capcus ke salah satu ikon resto tersohor Kota Malang, Taman Indie Riverview Resto yang terletak di kompleks Kota Araya. Sesampai di resto ini, kesan pertama yang muncul lagi-lagi adalah asri. Restoran bernuansa Jawa dengan suasana sejuk beserta rerumputan hijau dan pepohonan yang rindang. Nuansa Jawa begitu kental terasa, banyak pernak-pernik, furnitur dan ukiran Jawa, dan tentu saja taplak-taplak meja bermotif batik. Menu restonya? Jawa semua dong? Ooo jangan khawatir, memang banyak sekali menu khas Jawa yang disediakan tapi disediakan juga menu Chinese, Japanese dan Western sampai menu khas Taman Indie Resto sendiri.


Taman Indie Resto ini menyuguhkan pengalaman kuliner asyik dengan bonus pemandangan menarik ke arah manapun mata memandang karena desain arsitektural resto ini dirancang menyatu dengan alam. Untuk lokasi tempat makan aja nih, dibuat bermacam-macam – ada pendopo, bale-bale hingga gazebo. Yaaak karena konsepnya saja river view, jadilah gazebo-gazebo tersebut lokasinya berada di dekat sawah dan beberapa bahkan di tepi Sungai Bango. Kurang kece apalagi coba, makan enak dengan nuansa sejuk dan pemandangan sawah nan hijau – serasa di pedesaan deh! Taman Indie juga terhubung dengan lapangan golf. Nah, itu penampakan jembatan di foto adalah jembatan buat nyebrang si mobil golf :D


Selain pemandangan yang asri, Taman Indie juga memanjakan pengunjung dengan taman-taman yang menyejukkan mato (yah namanya juga Garden of Indie). Ini habis hujan rintik-rintik, hijau dan sejuk di mato kan? Apalagi dengan diiringi hawa sejuk Kota Malang, amboiiiinya kotaku ini ^^. 


Salah satu lokasi menarik Taman Indie yang cukup lama kami singgahi adalah “Pawon”. Yak, pawon adalah Bahasa Prangcisnya Jawanya “dapur”. Masuk pawon ini berasa lagi mudik ke desa ke rumah si mbah, pawonnya Taman Indie persis pawon-pawon yang ada di desa. Ya, ada pawon-nya yang buat masak, rak piringnya itu sampai amben-nya yang ndeso banget :D. Ada ibu yang memasak di dalamnya dan berpakaikan ala Jawa juga. Di dalam bangunan untuk pawon dan bale-bale area pawon ini disediakan meja untuk makan bersama. Di luar pawon juga asyik buat motret-motret. Tuh ada banyak kendi, oblik, sepeda jadoel, sampai kurungan ayam hehehe. 


Ini Ditut, bukan ibu-ibu yang dimaksud lo yaaa hehehe. Ditut lagi “cetik geni” alias nyalain api, mau jadi calon mantu yang baik katanya hahaha. Nah yang sebelah kanan itu Ditut dan “sepet”, sabut kelapa kering yang biasa dijadikan bahan bakar kayak kayu di dapur tradisional Jawa.


Yang pengen ngemil jajanan jadoel disediakan juga loh disini. Iyaaa jajanan masa kecil kita temans yang disediakan oleh Cemal-Cemil. Duh deh ah dan tentunya itu tuh yang bikin mata food blogger langsung gatel liatnya, mug enamel mungil yang lucu banget kalo buat motret bento heheheh. Beli gak Ta? Hahahah, pertanyaan yang jawaban by-default-nya pastinya yes :D.

Dari area Pawon, kita masih lanjut nih jelajahin indahnya Taman Indie. Sampai akhirnya “breeessssss”, eeeaaa hujan lagi. “Ngiyup” aka berteduh ke tempat terdekat di sebuah bangunan yang seperti bergaya kolonial Belendes gitu deh. Gagal nga-zebo. Nah, adem-adem ujan-ujan gitu paling pas pesen minuman hangat tradisional kayak wedang angsle ini. Duuuh santan angetnya yang milky dan petulonya, so comforting. Nah Si Ditut yang agak ajaib, dingin-dingin malah pesen Es Gadul Tali Merang hahahaha, memang anti mainstream dia :D. 

Yep, hari yang indah bersama rekan-rekan food blogger ditutup dengan wedang angsle yang enak dan anget. Ketika gerimis sudah reda, lanjuuuttt deh foto-foto lagi :D. Tuh, Mbak Nyutti lagi beraksi motretin Mbak Rurie, Mbak R dan Mbak Ces. Saya jadi pemotret di belakang layar saja hehehe. Terimakasih teman-teman food blogger Surabaya dan Malang, kangeeeen kapan-kapan bertemu lagi yaaaa *beary hugs :D.


Buat teman-teman, kalo ke Malang boleh deh mampir di Taman Indie Resto di Jl. Lawang Sewu Golf No. 2-18, Kota Araya, Malang (Tlp. 0341 – 417777). Widiiiiih mengandung horror yak nama jalannya. Jangan khawatir, nama jalannya doang, tempatnya sih kece kebangetan hehehe.

Beberapa minggu tak lama setelah jalan kuliner bareng rekan food blogger Surabaya, aku dan Ditut jajan di Depot Bakso Cak Kar di Singosari yang terkenal itu. Kali ini bareng teman food blogger Malang, Mbak Ririek. Udah pada tau kaaaan sama Mbak Ririek sang juragan alas background kayu langganan dan kecintaan para food blogger Indonesia raya? :D. Mbak Ririek yang memandu kami ke tempat tujuan, pluuuus ditraktir juga loooo baksonya asyiiiikkk, thank you tomaaatttt Mbak Ririek *joged gurita hehehe.


Primadona dari Depot Bakso Cak Kar ini tentu saja bakso mercon endesnya yang berisi racikan sambal pedas di dalamnya. Ada juga juga bakso ranjau dengan isi cabe rawit utuhnya yang kalo digigit “makceplus” huaaa pedeeesss beneran makan ranjau deh hehehe, cocok banget bagi yang doyan pedes. Bagi yang gak suka pedes, Bakso Cak Kar menawarkan varian lain seperti bakso otak sapi, jamur, hati sapi, keju, urat, serta bakso jumbo dan bakso jawara yang besarnya bisa disantap rame-rame.

Untuk menu baksonya bisa pilih sendiri ya sesuai selera. Dayang-dayang baksonya juga cukup lengkap dan menggoda selera. Saya sih pilih bakso mercon dan ranjau serta gorengan dan paru. Uooooo mantap banget baksonya, endeeesss, enak dan pedes sodaraaa :D. Kalau lewat Singosari, selalu deh pingin mampir dimari. Yes, bakso merconnya addictive haha. Bakso Cak Kar berlokasi di Jl. Anusopati (Gg. III Candirenggo), Singosari, Malang. Lokasinya deket banget dengan Candi Singosari, tuh sehabis mbakso kita foto-foto candinya :D

Setelah mbakso di Singosari, kita ceritanya waktu itu langsung ke MTD (Malang Tempo Doeloe) di Jl. Ijen. Sebagai food blogger, yaaak sasaran kita gak jauh-jauh dong dari makanan. Perut langsung keroncongan lagi waktu liat makanan ala Jawa *duh perut karet. Duh itu efek bakaran gosong-gosongnya bikin iman runtuh juga sih. Belum lagi lalapan dengan gorengan ikan dan sambelnya. Dan tentu saja Sang Legenda, Ayam Lodho, masakan khas Tulungagung yang nikmat banget disantap dengan nasi gurih anget-anget dengan wadah daun pisang. Wuah, Mas Channing Tatum lewat naik delman pun bisa gak sadaaar, ya iyalah yang kliatan kudanya doang hehehe.


Ada juga jajanan jadoel jaman kanak-kanak mulai dari dawet dengan mangkok bathoknya, cenil, lupis, sawut, kembang gulo (beda yak sama yang diputer-puter), gulo kacang, es gandul, gude godhok, sampai kerupuk wedi (pasir) dan kerupuk bunder yang kayak ada tepungnya itu (namanya apa sih lupa, sampai sekarang aku sebutnya kerupuk triplek, karena kayak makan triplek hahaha). Ada juga buah jaman dulu yang sekarang cukup langka, Rukem. Ditut beli nih, cara makannya unik, diunder-under dulu (aduh bahasa Indonesianya apa ya?) pakai dua telapak tangan sampai permukaannya empuk, baru diceplus ^^. Jajanan anak jaman dulu kece sekaleee ya? Ahahah.



Untuk saya dan Ditut, walaupun kalau gak lagi rame-rame bareng food blogger, kita berdua sering jalan bareng ya masih ada hubungannya sama makanan lah hehehe. Kemana-mana berdua naik motor, dan saya setia dibonceng. Ditut is indeed the best rider, kalo Bahasa Jawanya “tegen” apalagi dengan penumpang yang chubby kayak saya hehehe. Biasanya kita ke Batu, jalan-jalan ke kebun apel atau sekalian ke perkebunan cari sayuran segar. Muraaah dan segar buuuk. Yaaa, kadang Ditut suka bawa wortel, beet, kentang, horenzo, atau sawi ke kos. Yaaak, dan saya harus memasaknya :D



Ini pas kita ke kebun apel, kata bapak pemilik kebun apel kita boleh makan apel sekenyangnya asal mampu *seriously? *siap-siap bangkrut ya paaak! :D. Ada Apel Manalagi dan Rome Beauty. Beneran deh, kalo makan apel fresh from the tree sama yang udah dijual di pasaran itu rasanya beda banget. Rasa manis dan fresh-nya sungguh beda. Kalo mau metik berapa kilo gitu bawa pulang ya bayar hehe. Batu kan terkenal dengan agrowisata-nya ya… Seneng deh pokoknya kalo main ke Batu. Di agrowisata, bukan hanya hidangan segar buah-buahan yang disediakan, ada juga lo bagi yang suka kuliner unik kalo pingin coba Nasi Goreng Strawberry :).


Mumpung sama bestie, jalan bareng dan kapan lagi foto lucu-lucuan di bawah pohon apel gini hihihi. Duo chubby kemana-mana motoran berdua dengan tidak mengindahkan perasaan Cak Kandar (nama motornya Ditut, iya namanya Cak Kandar) karena harus menyokong duo chubby kemana-mana. Jadi kita berdua pasrah aja sebenernya pas di jalan harus disalipin motor-motor lain dan mobil yang kenceng-kenceng. Cak Kandar sedang berjuang kawan! Apalagi kalo pas lagi jalan ke Batu yang jalannya tentu saja agak menanjak, dalam hati terus berdoa: Kuat ya Cak Kandar, kuat kuat kuat! Kamu bisa! Kamu bisa! Cak Kandar ganteng pasti bisa! Hehehehe. Ah jadi tambah rindu my bestie… Bebeeeb cepat pulang bebeb dari Jakarta bawa Toyota Agya merahnya, ayo kita jalan-jalan kuliner lagi :D. Kasian Cak Kandar, saatnya upgrade! :D

Nah, supaya kalo jalan-jalan kulineran gak was-was lagi dan lebih nyaman, boleh ya berandai-andai punya ride yang kece kayak Toyota Agya :D. Selama ini sih pas diantar kemana-mana atau butuh dijemput sama kakak tinggal duduk manis aja. Nah karena masih berandai-andai, justru disini saya merasa senang dan beruntung karena akhirnya berkesempatan untuk membaca dari berbagai sumber dan belajar serta meng-edukasi diri saya sendiri bagaimana sih mobil yang aman dan nyaman itu. Daaan salah satu mobil aman, nyaman, irit dan ramah lingkungan yang lagi nge-heeeiiittts adalah si cepat Toyota Agya :D. Saya sih sukaaa banget sama yang warna putih ya, kesannya clean, elegant, casual dan sporty gitu. Kalo Ditut suka yang warna merah, kliatan banget karena dia orangnya ceria dan penuh energi. Keren sekali ya Toyota Agya ini mengeluarkan beberapa pilihan warna dan bisa disesuaikan dengan warna kesukaan dan kepribadian sang pengendara seperti White, Silver Metallic, Light Blue, Grey Metallic, Blue Metallic, Black, dan Red. Selain warna-warna yang kece, Agya juga memiliki design yang stylish. Ukuran Agya ini menurut saya juga pas, ya gak kegedean dan gak kekecilan juga. Buat 4-5 orang ya pas, buat 1-2 orang yang pas gak kegedan banget, gak mubazir menuh-menuhin jalan lah ukurannya hehehe. Yep, saya sering merasa sayang aja kalo satu mobil gede di jalan isinya satu orang saja, gak hemat jalan sih hihihi. Agya ini sangat cocok buat keluarga kecil atau single dengan kehidupan yang dinamis *uooo.

Kali pertama saya mengenal Toyota Agya ini di akhir tahun 2013. Pagi itu di kantor beberapa teman kantor yang cowok dan bapak-bapak lagi asyik ngobrolin mobil baru yang affordable keluaran Toyota yang muncul di koran. Salah satu bapak bahkan kesengsem berat dan berniat membeli karena harganya yang kompetitif dan kualitas serta performa Si Agya ini. Waktu saya liat, keren juga! Dengan design dan semua kualitas dan teknologi yang ditawarkan serta harga yang dibandrol kisaran 100 – 125 juta tentu menjadi selling point tersendiri. Makanya tidak mengherankan Agya memiliki after sales terbaik di Indonesia dari info-info yang saya baca.

Toyota Agya merupakan city car LCGC (Low Cost Green Car) yang dikeluarkan dalam tiga tipe: Type E, Type G, dan Type TRD S. Dalam peraturan LCGC atau mobil murah ramah lingkungan, pemerintah menerapkan bahwa salah satu syarat mobil murah itu komsumsi bahan bakarnya harus tembus 1 liter untuk 20 km. Dan Agya tentunya sudah memenuhi persyaratan tersebut, bahkan Agya mampu menempuh jarak 30 km cuma dengan bensin 1 liter. Cocok yaaa… Apalagi BBM naik terus nih hehehe. Toyota Agya juga memiliki fitur ECO yang berfungsi memberikan informasi kepada si pengendara apakah pengendaraannya itu sudah irit bahan bakar atau tidak. Jika pengendara berkendara irit maka logo ECO tersebut akan muncul berwarna hijau. Fitur ECO ini akan menyala kalau cara berkendara si pengemudi dalam menginjak pedal gas tidak terlalu keras. Bagi saya ini helpful banget, apalagi buat pengendara baru mobil yang bener-bener perlu dikasih “kode” gimana berkendara yang bener dan irit :D. Berdasarkan web-web automotif yang saya baca juga, berbekal mesin 1KR DOHC 12 valve dan berkapasitas 1.000 cc memastikan performa Agya bertenaga, lincah, dan irit bahan bakar serta ramah lingkungan.


Untuk spesifikasi bagian interior, Agya telah dilengkapi dengan power window, AC, central door lock di bagian samping pengemudi, kursi dengan head rest dan tentunya sabuk pengaman di semua kursi. Agya juga dilengkapi dengan sistem audio canggih dan juga USB connector, sehingga ketika mengendara dan baterei hp habis, tinggal dicolokin. So convenient deh :). Walaupun nampak kecil dari luar, Agya memberikan ruang kabin yang luas untuk semua tipe. Bagasi juga cukup luas. Dituuut, kalo mau belanja sayur yang jumlahnya gak kira-kira untuk persediaan berminggu-minggu gak perlu khawatir lagi deh. Bagasi Agya bisa tampung semuanya :D. Dan yang jelas gak perlu bawa belanjaan berat-berat naik motor lagi. Kasian Cak Kandar, kita penumpangnya sudah berat ditambah belanjaan yang berat pula hehehe :D.


Fitur safety atau keamanan juga tidak kalah penting. Dual SRS Air Bag memastikan keselamatan pengemudi dan penumpang di bangku depan jika terjadi benturan. Agya juga memiliki Body Reinforcement sehingga keselamatan penumpang lain juga terjaga. Untuk fitur transmisi di semua tipe, disediakan dua pilihan yaitu otomatis dan manual. Fitur safety lain yang dimiliki Agya adalah electric mirror, Air Fresh Lever, dan ISOFIX. Electric Mirror (terdapat di Agya type G dan TRD S) memungkinkan kaca spion mampu difungsikan dari dalam mobil dimana pengendara tidak perlu menutup-buka kaca mobil. Fitur Air Fresh Lever  berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara. Sedangkan fitur ISOFIX merupakan fitur keselamatan yang dipasang di jok penumpang demi keamanan si buah hati selama berkendara (baby car seat). Jadi jelas ya Toyota Agya ini memberikan prioritas keselamatan bukan hanya untuk penumpang dewasa, tetapi juga anak-anak (bayi). Nah, emak-emak blogger yang suka bawa buah hatinya saat kopdaran, tidak perlu khawatir yaaa… Toyota Agya aman dan idaman ibu-ibu :D. 


Dengan berbagai fitur dan teknologi unggulan ini, jelas terlihat Toyota Agya memiliki komitmen yang tinggi untuk keamanan dan kenyamanan pengendara. Gak rugi deh saya meng-edukasi diri saya tentang mobil yang aman dan nyaman. Hiks jadi semakin pengen punya mobil Agya ini. Kalo keluarga sih memang dari dulu pecinta Toyota, mulai dari Avanza sampai ganti ke Yaris TRD S. Nah waktu posting ini, mama saya ngintip, katanya: Daripada uangmu buat ngojek melulu sana tabung cicil-cicil buat beli Agya! Hehe iya ya ma… Duh yang bikin tambah kepengen juga karena Toyota Agya ini menawarkan harga yang sangat kompetitif. Jadi tambah semangat kepinginnya ya hehehe. Benar-benar mobil idaman, memiliki ukuran design yang pas dan warna-warna yang menarik. Cocok buat keluar bareng besties buat seseruan kekulineran dengan kendaraan yang kece, sporty dan yang penting juga hemat bahan bakar, lincah dan ramah lingkungan! Pas banget sama selera saya. Yes, it’s totally me! My Agya, My Style! *semangat nabung :D

Toyota Agya photos courtesy of Toyota Indonesia

You May Also Like

8 comments

  1. Hurraaay... Semangat nabung... Eike ikut yaaa.... *nggandholi Tata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyalaaaahhh....... Biar gak bingung minta dijemputin dan ngojek melulu hihihii. Sekalian biar bisa jalan2 ke Surabya belanja bento tools di forbento laaah, asyiiiikkk :D

      Delete
  2. Bagus-bagus Mbak Fotonya :)
    Semoga sukses ya nabungnya ^^

    Salam kenal,
    Lia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks a bunch Lia :D
      Hehehehe, siiip ku aamiini sekali doanya, semoga gak sering khilaf beli bento tools melulu yaaaa hehehehe :D.
      Salam kenal juga, and thanks for the sweet comment ^^

      Delete
  3. halo mbak tata, salam kenal aku Nisa, wah bentonya asik tu, Agyanya kayak mau nongol gitu, 3D, semoga jadi kenyataan yah..
    ceritane asik yo, semoga aku bisa ke malang lagi, iso jajan nang jalan lawang sewu, karo bakso kawi,, waaah enakee,,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloooo Mbak Nisa.... Maaf sekali ya mbak baru bisa balas komennya, keasyikan libur lebaran hihihihi. Salam kenal juga ya mbak, matursuwun lhooo sudah mau sowan ke blog sayah :D. Siiip, kalo ke Malang jangan lupa mampir Kepanjen yaaa, baksonya enak2 lho disini hehehe :D

      Delete
  4. Keren dan cerah foto-fotonya kak :D suka banget postingannya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak Mbak Vika, barusan mampir ke blognya Mbak Vika wooooo banyak makanan enak :D

      Delete

Just feel free to drop your comment. It will be visible after approval.