Stop Copas Konten dan Foto Foodblog!!!

by - Friday, December 30, 2011

Ini kita para anggota Indonesian Foodblogger lagi supeeerrrr geraaaaammmm plus BETEK (gaya e Batak) abis! Apalagi kalo bukan karena masalah pengambilan foto di blog para Indonesian foodblogger tanpa ijin, hedeeeehhh. Disini saya ingin menjelaskan kenapa sih kami sebagai food blogger bisa super jengkel, marah, dan geram kalo foto-foto kami dipake tanpa ijin APALAGI KALO SAMPAI NGE-CROP WM KAMI. Kali ini yang menjadi korban LAGI-LAGI adalah Indonesia Eats, Cooking with Love, (former) Food is Love, Cemplang Cemplung, Bianca's and Jordan's Mom, Yummy Corner, A.G's Food, dan mungkin masih ada yang lainnya. Site yang mengambil foto tanpa ijin dan menghilangkan WM tersebut adalah www.dapurbumbu.com (kemaren sih udah under maintenance dan sekarang dah raib itu site, ek oookkk). Fanpagenya di FB masih ada, dan teteuuupppp foto-foto colongan itu masih nampang. Ini adalah satu contoh aja foto dari Mbak Lidia yang di-crop dan DENGAN NIATNYA dihilangkan WM yang dipasang di tengan foto jebret sama Mbak Lidia. Dooooohh.... Serba salah ya, WM ditengah bikin foto jelek udah gitu masih sempet-sempetnya lagi WM dihilangkan, apalagi yang ditaruh dipinggir, wassalam.... Padahal fotonya mbak Lid yang satu ini belum mejeng di blog beliau loh, masih di upload di flickr dan FB beliau. Haduuuh rajinnya :D

377499_10150547899680132_563275131_11289343_393206614_n

Sedangkan ini link foto asli Lepet Jagung-nya Mbak Lidia yang masih sempat di upload di flickr. Tuh kan WM di tengahnya ilang... Niat banget.

Langsung aja deh, kenapa sih kita, foodblogger, tuh lebaaayyy banget kalo foto kita diambil tanpa ijin dan dihilangkan WM kita bisa geraaam seperti lagi kebakaran jenggot (padahal kita foodblogger yg cewek gak punya jenggot ;p). Kalo ada yang bilang seperti tadi: "Foodblogger itu lebaaayyy bgt kalo fotonya dipake tanpa ijin, wong fotonya cuma dipake gitu aja kok, yang penting si "dia" yang udah nyomot foto udah minta maaf." Helooooooooooooo...... Walaupun HANYA untuk menghasilkan SELEMBAR FOTO AJA itu prosesnya tidak main-main, panjaaaang, bikin capek plus ADA BIAYANYA JUGA. Truly foodieblogger PASTI bisa merasakan apa yang kami rasakan dan kami maksud. Bagi anda yang bisa bilang "gapapa" mungkin *MAAF* anda belum terjun langsung sendiri merasakan dan menjalani lika-liku kami sebagai foodblogger untuk menghasilkan foto dan resep yg kami tampilkan di blog. Anda harus mencoba turun tangan langsung dan rasakanlah sensasi lika-liku perjuangan menghasilkan SELEMBAR FOTO itu untuk bisa merasakan apa yang kami rasakan.

Menjadi seorang foodblogger itu BUKAN HANYA SEKEDAR menjadi photographer bagi masakan kami. LEBIH DARI ITU, sekali lagi.... LEBIH DARI ITU (kayak kata Mbak Sefa :D). Apakah anda pernah mendengar ada selembar hasil karya foto makanan yang dihargai ratusan ribu bahkan jutaan? Kenapa bisa ratusan ribu bahkan jutaan? Well, seperti yang sudah saya tulis tadi: LEBIH DARI ITU. Untuk menghasilkan SEBUAH FOTO SAJA ada hal-hal yang terlibat:
  1. BIAYA membeli bahan masakan. Kalo di bidang komersil "Biaya Produksi" lah. Nah kita sebagai foodblogger? Menjadi donatur bagi diri sendiri! Belanja ke pasar sendiri, capek2 dijinjing sendiri (jadi kuli diri sendiri), ngangkot juga bayar. Kadang kalo gak ada di pasar tradisional? Kita harus rela merogoh kocek sedikit lebih dalam dengan belanja ke supermarket yang berarti "biaya produksi" bertambah. Belum lagi yang bahannya beli online, ada ongkos kirim.
  2. BIAYA bayar si Chef aka tukang masaknya. Itu aja kalo komersil beneran sudah berapa coba? Nah kita foodieblogger? Jd tukang masak ndiri!
  3. BIAYA bayar Food Stylist. Apa yang dibayar buat seorang food stylist? Konsep, kekreatifitasannya untuk menyuguhkan masakan supaya terlihat cantik dan layak jual. Kemudian, food stylist butuh apa? PROPERTI PEMOTRETAN! Duit lagi yang berarti "biaya produksi" bertambah lagi. Kita foodblogger? Menjadi food stylist sendiri dengan memikirkan konsep pemotretan yang butuh mikir dan menuntut kekreatifitasan kita. Properti? Kita beli sendiri! Uang kita sendiri? Ya iyalaaah.... Kurang apa coba?
  4. BIAYA bayar photographer. Gak main-main! Gak semua orang bisa mengambil angle foto yang pas untuk menghasilkan foto yang bagus. Photographer butuh apa? Kamera dan tetek bengeknya yang harganya bisa jutaan bahkan puluhan juta. Belum lagi ngedit-ngeditnya. Kita foodblogger? Jd photographer bagi masakan kita sendiri. Jd editor photo kita sendiri (tenaga dan pikiran bo'). Peralatannya nyewa? Ya NO lah yaaaa.... Kita MODAL lah.
Nah... Monggoooo, silahkan deh itu semua diitung-itung kira-kira untuk menghasilkan SELEMBAR FOTO AJJAH biayanya berapa. Nah kenapa selembar foto makanan harganya bisa sampek ratusan ribu bahkan jutaan? Yah karena itu tadiiiiiiiiiii......... Buat biaya dan bayar pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi: Biaya produksi (bahan mentah, alat masak, properti pemotretan, dan masih bisa merambah biaya hal lainnya), gaji tukang masaknya, gaji food stylistnya, dan gaji photograpernya. Dan juga hal-hal lain yang harganya lebih "mahal" daripada itu "kekreatifitasan" dan "skill". Dan untuk kami foodblogger? Kami merangkap semua profesi itu. Semua biaya itu kami tanggung sendiri. Jadi bagi yang mengambil foto-foto kami tanpa ijin bahkan menghilangkan identitas kami sebagai pemilik foto, SUDAH BERAPA BANYAK BAHKAN JUTA YANG ANDA RAMPAS DARI KAMI????? *emosiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!

Belum lagi lika-liku yang mewarnai perjalanan kami dalam menghasilkan SELEMBAR FOTO AJA itu. Bagi foodblogger yang sudah menjadi ibu rumah tangga, perjuangan itu tidak mudah. Karena mereka harus direcoki krucils saat proses pembuatan, harus pintar2 bagi waktu, harus cuci piring dan peralatan masak sendiri (means kalo di komersil ada tambahan "biaya produksi" buat yang cuci piring). Belum lagi saat kami bela-belain hunting properti, photography book, recipe book, de el el, kita *saya* harus rela bahkan gak milih beli baju baru atau jajan karena kepengen beli properti motret yang unik. Nah saya tinggal di kos-kosan, dapur ada di lantai bawah ujung selatan bangunan sedangkan lokasi pemotretan ada di lantai atas ujung utara. Saya harus capek-capek lari-lari naik turun tangga kejar-kejaran dengan sinar matahari supaya dapat foto bagus. Saya dan food blogger lainnya sampek bela-belain bikin studio odong-odong sebagai tempat pemotretan, sampek ada yang bela-belain bikin reflektor home made, stereofoam dll untuk penunjang proses pemotretan masakan kami. Kalo ada yang nyomot foto kami dan sengaja menghilangkan WM (watermark) kami, kurang SADIS gimana lagi coba kepada kami? Bahkan sebelumnya beberapa foto saya dan teman-teman juga dibajak dan diterbitin di buku resep. Si penerbit gak perlu pusing-pusing mikirin biaya produksi dan gaji orang yang terlibat di dalamnya yang seabreg tinggal comot sana-sini dan tiba-tiba Voila! nerbitin buku trus dapat untung. Kurang dirugikan kayak apa lagi para foodblogger ini? :(. Ini kasus sebenernya udaaah jamaaaaan dulu, sebenernya dah males saya.

30891_1283018726816_1570557124_30614082_1694745_n

30891_1283013406683_1570557124_30614056_4658211_n

Di cover dua buku atas sebagian besar hasil nyopet dari teman-teman food blogger, terutamanya foto dan masakan karya Mbak Ayin dari A.G's Food

Ini foto-fotoku yang diambil dan diilangin WMnya:
30891_1283019966847_1570557124_30614083_558062_n

30891_1283020526861_1570557124_30614084_5826293_n
SEDDIHHH T_________T

"Kalo fotonya gak mau dicuri ya gak usah susah-susah bikin foto yang bagus dong mbak...Ngapain mau repot-repot dan capek-capek kalo ujung-ujungnye foto bakal diambil tanpa ijin?" Kalo ada yang tanya gitu... Well, bagi kami foodblogger memang ada kepuasan tersendiri bagi kami untuk bisa menantang diri sendiri dalam menghasilkan karya. Bahkan kadang-kadang kami sampai rela mengalahkan rasional kami untuk mengumpulkan barang-barang "aneh" untuk properti pemotretan kami. Kami mencoba melakukan yang terbaik dalam menghasilkan foto dan bahkan tampilan blog untuk menyenangkan pembaca kami. Dan kami senang untuk berbagi dengan karya kami. TAPI: "berbagi" disini maksudnya bukan untuk seenaknya dicomot tanpa ijin. Kami meng-upload foto dan resep di blog bukan sebagai "supplier" bagi oknum tidak bertanggungjawab untuk tinggal seenaknya aja copas conten blog kami dengan menghilangkan WM pada foto atau tidak menyertakan link ke blog kami lalu me-re-post conten milik kami dan diaku miliknya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Kalo itu sih si oknum yang ERROREJING. Mbok kalo mau sok nyiber (cyber) itu ya educate themselves dulu lah. Jadi kalo ada tulisan: "You are NOT allowed to use them for any purposes without her permission. PLEASE ASK FIRST!" itu bener-bener ngerti artinya, bukan ngerti arti literalnya saja, tapi juga memahami makna yang sebenarnya. Jangan sampek jadi Cyber Criminal, hiiiiiii!!!

JADIIIIIIII.......... Stop Copas Konten dan Foto Foodblog!!! Mari kita perangi KETIDAKADILAN ini! Kita mendo'akan kalo masih ada oknum-oknum seperti itu semoga cepat tobat (walaupun kayaknya susah, semoga kebebalan mentalnya luntur dan segera insyaf agar selamat dunia akhirat :D). Kalau mau cari rezeki itu caranya mbok ya harus yang jujur dan bener dong yaaaa, gimana mau berkah kalau men-sadis-i orang lain :)

Wassalam.....
 

You May Also Like

14 comments

  1. I have said on my Facebook Fanpage "People might think it's ok to take pictures from the internet and republish them without any permission, linking back etc. I'm talking about people who want to monetize their web by using other people's pic. Well, you should know it's not an easy job to take food pictures so you should understand that stealing or using pictures with no permission is basically the same with stealing (physically) something in the real world (outside the internet)"

    Foto Lidia ada tambahakn lg semalam aku nemu foto tempe penyet itu juga diapus WMnya :(

    ReplyDelete
  2. "Foodblogger itu lebaaayyy bgt kalo fotonya dipake tanpa ijin, wong fotonya cuma dipake gitu aja kok, yang penting si "dia" yang udah nyomot foto udah minta maaf."
    --->Gemessssssssssssssssssssss !!!! sapa tuh yg bilang begitu ? sambit tripod baru nyaho :p

    ReplyDelete
  3. "Kalo fotonya gak mau dicuri ya gak usah susah-susah bikin foto yang bagus dong mbak...Ngapain mau repot-repot dan capek-capek kalo ujung-ujungnye foto bakal diambil tanpa ijin?"

    Itu pertanyaan BODOH!!! sama aja kayak nyuruh orang berhenti berkarya, dan wajar bangedh untuk marah kalo karyanya dicuri orang.

    Yang harus dihentikan itu para pencurinya!!!! apalagi klo ada niat komersial dan mendapatkan uang dari hasil curian ... DUIT YG DIHASILKAN HARAAAMMM!!!!

    ReplyDelete
  4. Ikutan emosi n ikutan membombardir sih kemarin...emang dudul tnan tuh orang ya Ta...kalo didepan mata orngnya pasti udah jadi bubur manado deh...*gemes T_T
    Mudah2an bisa menjadi pelajaran buat semuah...aq tambahin lagi ya pengorbanan yg kita tanggung (ciee) selama pembuatan n pembuatan makanan tsb yaitu anak2 n suami kadang nggak boleh deket2 n nyipcipin makan tsb dulu sblm difoto hihihihihi...tul gaaaakk????

    ReplyDelete
  5. Sekarang bukan hanya food blogger yang kreatif. Maling foto jg kreatif. Sampe rela repot repot ria tuk ngilangin watermark. Bisa nggak kita menyeret mereka ke meja hijau. Kita punya bukti dan punya saksi dan jelas ada tersangkanya. Pasti banyak yang dukung...

    ReplyDelete
  6. :) Jadi inget penggalan iklan "apa sih susahnya ngomong ? SMS ga pernah, telpon ga pernah !"

    Nah ini nih masalahnya, mereka ga minta ijin. Entah buta huruf atau ga melek arti COPYRIGHT, tapi yang pasti mereka ga punya perasaan waktu nyolong dan ngapus WM dari foto orang.

    Beberapa hari ini saya nyari cara supaya maling2 itu ga nyolong lagi. Kudu nambah script apa di blog supaya foto ga keambil. Tapi kok malah kita memenjarakan diri kita sendiri. Kudunya mereka yang "kalo perlu" kita "penjarakan". Karena bukan kita yang melakukan kecurangan tapi mereka.

    Saya dukung supaya IDFB punya acuan yang jelas tentang COPYRIGHT yang tertulis, apa akibatnya kalo ada yang ketauan nyolong foto dari member IDFB dan berapa penaltynya. Dengan begitu foodie blogger bisa bebas berekspresi, menghasilkan foto makanan yang indah, tanpa perlu majang WM segede mangkok makanan yang difoto, dan yang mo nyolong juga mikir2.

    Allah Maha Melihat, apa yang sudah diambil dengan cara curang dari kita akan dikembalikan oleh-NYA.

    ReplyDelete
  7. @Indonesia Eats: Ho oh, belum nyadar mereka dengan profesi malingnya itu, soalnya modus operandinya gak perlu pake sarung yang dilebetin ke muka model ninja2 dan jalan ngendap2 trus dikejar-kejar pak hansip atau satpam karena ketangkap basah he he *ketawa garing

    ReplyDelete
  8. @Mak Jul: Tripod mah kebagusan, sayaaaaang ah! Kasih Tata aja :))

    ReplyDelete
  9. @Mbak Hesti: Kalau semua Indonesian Foodblogger (yang sejati lo yah, yang isi blognya hasil copas tanpa ijin gak termasuk) kompak, solid, dan bersatu PASTI BISA!!!

    ReplyDelete
  10. @Mbak Elly: Betuuuullllll!!! Kalau Tata mah sampek kadang gak tega liat tampang2 adek kos yang dah lemes mupeng bgt pengen nyoba tapi harus nunggu selesai ditata lalu difoto dulu :)

    ReplyDelete
  11. @Mbak Tika: Setujuuuuuuuuuuuuuuu.....

    Buta huruf sih enggak mbak, mentalnya yang dah buta dan bobrok bgt.

    SIPPP!!! Setelah itu kita sebagai anggota IDFB (Indonesian Foodblogger) bikin logo yang harus dipasang di masing2 blog punya kita: yang nunjukin kalo kita adalah member dari IDFB punya peraturan begini dan begini dan begitu tentang hak cipta hasil karya member2 kami, kalo sampai ada yang ketauan nyolong atau memakai karya member IDFB tanpa ijin, maka yang akan mereka hadapi adalah semua para punggawa IDFB. Gimana? Jd logonya nge-link keperaturan asosiasi kita sebagai IDFB gitu.

    ReplyDelete
  12. Terima kasih sudah berbagi dan pencerahannya, saya baru paham dan baru ngeh ttg watermark.. Mohon maaf jika beberapa waktu yang lalu saya mengupload foto makanan tanpa izin tertulis, biasanya minta izin di blognya...

    ReplyDelete
  13. Sama-sama mbak, senang tulisannya bisa bermanfaat :)

    ReplyDelete

Just feel free to drop your comment. It will be visible after approval.